Wgfilm21 sponsor

[MIDE-709] Perselingkuhan Dengan Ibu Boss – Shoko Takahashi

Tidak ada voting

KETINGGALAN KERETA TERAKHIR
Perselingkuhan Terlarang di Kamar Hotel Bersama Bos Wanita yang Sudah Bertunangan

Malam itu seharusnya menjadi malam biasa.

Ryo hanya berniat menyelesaikan perjalanan dinasnya secepat mungkin, lalu pulang dengan kereta terakhir menuju Tokyo. Seharian penuh ia mengikuti rapat penting bersama atasannya, Shoko Takamura, seorang manajer wanita yang dikenal tegas, elegan, dan selalu menjaga jarak dengan bawahannya. Di kantor, Shoko adalah sosok yang hampir tidak tersentuh. Ia selalu tampil rapi, berbicara seperlunya, dan tidak pernah membiarkan urusan pribadi tercampur dengan pekerjaan.

Namun malam itu, semua batas yang selama ini mereka jaga perlahan mulai retak.

Rapat dengan klien berjalan jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Presentasi yang seharusnya selesai sebelum pukul delapan malam justru berlanjut sampai hampir tengah malam. Klien terus mengajukan revisi, meminta tambahan penjelasan, dan membuat suasana rapat semakin menegangkan. Ryo beberapa kali melirik jam tangannya dengan cemas. Ia tahu, kereta terakhir tidak akan menunggu siapa pun.

Shoko, yang duduk di sebelahnya, menyadari kegelisahan itu.

“Kau khawatir soal kereta?” tanyanya pelan saat klien keluar sebentar dari ruang rapat.

Ryo mengangguk kecil. “Sedikit. Kalau rapat ini belum selesai dalam lima belas menit, sepertinya saya tidak bisa pulang malam ini.”

Shoko menatap layar laptop di depannya, lalu menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya malam itu, wajah tegasnya terlihat lelah.

“Aku juga,” katanya. “Tapi kita tidak bisa meninggalkan klien begitu saja.”

Ryo hanya bisa mengangguk.

Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Mereka berdua sama-sama paham, tanggung jawab profesional terkadang menuntut pengorbanan. Tetapi mereka tidak pernah membayangkan bahwa pengorbanan malam itu akan membawa mereka ke situasi yang jauh lebih rumit daripada sekadar ketinggalan kereta.

Ketika rapat akhirnya selesai, jarum jam sudah melewati pukul dua belas malam. Stasiun terdekat sudah hampir kosong, lampu-lampu toko mulai padam, dan udara malam terasa dingin menusuk. Ryo dan Shoko berdiri di depan papan jadwal kereta yang menampilkan kenyataan pahit: tidak ada lagi kereta menuju kota mereka malam itu.

Ryo menunduk. “Maaf, Takamura-san. Saya seharusnya mengatur waktunya lebih baik.”

Shoko menggeleng pelan. “Ini bukan salahmu. Aku juga tidak memperkirakan rapatnya akan selama ini.”

Mereka terdiam beberapa saat. Di luar stasiun, hujan mulai turun rintik-rintik. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota, menciptakan suasana yang anehnya terasa sunyi meski mereka berada di pusat kota.

Pilihan mereka tidak banyak. Menunggu sampai pagi di stasiun bukan keputusan yang bijak, apalagi Shoko tampak sangat lelah. Akhirnya, setelah mencari lewat ponsel, mereka menemukan sebuah hotel bisnis tidak jauh dari stasiun.

Namun masalah lain muncul.

Hampir semua kamar sudah penuh.

Resepsionis hotel hanya menawarkan satu kamar tersisa: kamar standar dengan satu ranjang ganda.

Ryo langsung merasa canggung. “Tidak apa-apa, saya bisa cari hotel lain.”

Shoko menatapnya, lalu menatap hujan yang semakin deras di luar kaca lobi. “Sudah hampir jam satu. Kau juga lelah. Kita hanya perlu beristirahat sampai pagi.”

“Tapi…”

“Aku percaya padamu, Ryo,” potong Shoko dengan suara tenang.

Kalimat itu membuat Ryo terdiam.

Ia tahu Shoko bukan wanita sembarangan. Ia adalah atasannya. Lebih dari itu, ia juga seorang wanita yang sudah bertunangan. Di kantor, semua orang tahu bahwa Shoko akan menikah beberapa bulan lagi dengan pria dari keluarga terpandang. Tunangannya disebut-sebut sukses, mapan, dan sangat cocok dengannya.

Karena itulah, berada satu kamar dengan Shoko terasa seperti memasuki wilayah terlarang.

Sesampainya di kamar, kecanggungan langsung memenuhi udara. Ruangan itu tidak besar, tetapi bersih dan hangat. Sebuah ranjang ganda berada di tengah kamar, dengan dua bantal tersusun rapi. Di dekat jendela, tirai setengah terbuka memperlihatkan kota yang masih diguyur hujan.

Ryo meletakkan tasnya di kursi. “Saya bisa tidur di sofa kecil itu.”

Shoko menatap sofa sempit di sudut ruangan, lalu tersenyum tipis. “Kau akan sakit punggung kalau tidur di sana.”

“Tidak apa-apa.”

“Jangan keras kepala,” katanya pelan.

Nada suara Shoko malam itu berbeda dari biasanya. Tidak setegas di kantor, tidak sedingin ketika memimpin rapat. Ada kelembutan yang jarang sekali Ryo dengar. Mungkin karena lelah. Mungkin karena suasana malam. Atau mungkin karena, untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi berada di ruang kerja yang penuh aturan.

Shoko melepas jas luarnya dan menggantungnya di kursi. Ryo tanpa sengaja memperhatikan gerakannya, lalu buru-buru memalingkan wajah. Ia merasa bersalah hanya karena melihatnya terlalu lama.

Shoko menyadarinya.

“Kau gugup?” tanyanya.

Ryo tersentak. “Tidak. Maksud saya… sedikit.”

Shoko tertawa kecil. Suara tawa itu terdengar asing, tetapi indah. Di kantor, ia hampir tidak pernah tertawa seperti itu.

“Aku juga,” ucapnya jujur.

Kejujuran itu membuat suasana di antara mereka berubah. Dinding formalitas yang selama ini berdiri kokoh perlahan menjadi tipis. Mereka duduk di sisi ranjang yang berlawanan, menjaga jarak, tetapi keheningan justru membuat semuanya terasa semakin dekat.

Ryo mencoba membuka percakapan ringan. Mereka membahas rapat, klien yang sulit, dan pekerjaan yang menumpuk keesokan harinya. Namun semakin lama, pembicaraan bergeser ke hal-hal yang lebih pribadi.

Shoko bercerita bahwa ia sebenarnya sangat lelah dengan persiapan pernikahannya. Semua orang menganggap hidupnya sempurna. Karier bagus, calon suami mapan, keluarga yang mendukung. Tetapi di balik semua itu, Shoko merasa dirinya seperti sedang menjalani hidup yang sudah dirancang orang lain.

“Aku tidak tahu kapan terakhir kali membuat keputusan hanya karena aku menginginkannya,” katanya pelan.

Ryo memandangnya dengan hati-hati. “Takamura-san…”

“Di kantor, aku harus kuat. Di rumah, aku harus menjadi calon istri yang sempurna. Di depan keluarga, aku harus tersenyum dan setuju. Kadang aku bertanya-tanya, apakah ada satu tempat saja di mana aku boleh menjadi diriku sendiri?”

Ryo tidak langsung menjawab. Kata-kata Shoko terasa terlalu jujur, terlalu rapuh, dan terlalu berbahaya untuk ditanggapi sembarangan.

Di matanya, Shoko selalu terlihat sempurna. Wanita yang sulit digapai, cerdas, berwibawa, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi malam itu, di kamar hotel yang remang dengan suara hujan di luar jendela, Ryo melihat sisi lain dirinya. Sisi yang kesepian. Sisi yang ingin dimengerti.

“Aku rasa semua orang punya sisi seperti itu,” kata Ryo akhirnya. “Sisi yang tidak bisa ditunjukkan ke siapa pun.”

Shoko menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat jarak di antara mereka terasa semakin dekat.

Hening kembali turun. Namun kali ini, keheningan itu tidak lagi canggung. Ada sesuatu yang menggantung di udara. Sesuatu yang tidak mereka ucapkan, tetapi sama-sama mereka sadari.

Ryo tahu ia harus menjauh. Ia tahu Shoko adalah atasannya. Ia tahu Shoko sudah bertunangan. Ia tahu semua ini salah.

Tetapi semakin ia mencoba mengingat batas-batas itu, semakin kuat pula perasaan yang selama ini ia pendam diam-diam muncul ke permukaan.

Sejak pertama kali bekerja di bawah Shoko, Ryo memang mengaguminya. Bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena caranya membawa diri. Ia menyukai ketegasannya, kecerdasannya, bahkan caranya memarahinya ketika ia melakukan kesalahan. Namun ia selalu mengubur perasaan itu dalam-dalam. Baginya, Shoko terlalu jauh. Terlalu tinggi. Terlalu mustahil.

Malam itu, kemustahilan itu duduk hanya beberapa sentimeter darinya.

Shoko menunduk, memainkan cincin pertunangan di jarinya. Untuk pertama kalinya, Ryo menyadari bahwa cincin itu tidak terlihat seperti simbol kebahagiaan. Di bawah cahaya lampu kamar, cincin itu tampak seperti beban kecil yang melingkari hidupnya.

“Ryo,” panggil Shoko lirih.

“Ya?”

“Pernahkah kau ingin melakukan sesuatu yang kau tahu salah, tapi hatimu tetap ingin melakukannya?”

Pertanyaan itu membuat dada Ryo berdebar keras.

Ia seharusnya menjawab tidak. Ia seharusnya mengatakan bahwa manusia dewasa harus tahu batas. Ia seharusnya mengingatkan Shoko tentang tunangannya, tentang pekerjaan, tentang reputasi mereka.

Namun kata-kata itu tidak keluar.

Yang keluar justru kejujuran yang sama rapuhnya.

“Pernah,” jawabnya pelan.

Shoko mengangkat wajah. Matanya tampak basah, bukan karena air mata yang jatuh, melainkan karena perasaan yang terlalu lama ditahan.

Mereka saling menatap dalam diam.

Dan pada detik itulah, batas terakhir di antara mereka mulai runtuh.

Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang lebih dulu mendekat. Mungkin Shoko. Mungkin Ryo. Mungkin keduanya. Yang jelas, malam itu mereka sama-sama berhenti berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa di antara mereka.

Sentuhan pertama terasa ragu, hampir seperti pertanyaan. Tetapi ketika tidak ada yang menjauh, keraguan itu berubah menjadi keberanian. Shoko memejamkan mata, seolah untuk sesaat ia ingin melupakan semua hal yang menunggunya di luar kamar itu: tunangan, keluarga, pekerjaan, masa depan yang sudah diatur rapi.

Ryo tahu ia sedang melewati batas yang seharusnya tidak pernah disentuh. Namun di saat yang sama, ia juga tahu Shoko bukan sedang meminta diselamatkan. Ia hanya ingin merasa hidup. Ingin merasa dipilih bukan karena kewajiban, bukan karena status, melainkan karena dirinya sendiri.

Malam itu menjadi rahasia yang tidak akan mudah mereka lupakan.

Di luar, hujan terus turun. Kota berjalan seperti biasa, seakan tidak tahu bahwa di sebuah kamar hotel kecil dekat stasiun, dua orang dewasa sedang membuat keputusan yang akan mengubah cara mereka memandang satu sama lain selamanya.

Waktu terasa berjalan aneh. Kadang begitu lambat, kadang begitu cepat. Percakapan mereka terputus oleh tatapan, tatapan berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa mereka tarik kembali. Mereka tidak berbicara banyak. Mungkin karena kata-kata hanya akan membuat semuanya terasa lebih nyata. Mungkin karena dalam diam, mereka bisa berpura-pura bahwa malam itu tidak memiliki konsekuensi.

Namun kenyataan selalu menunggu di pagi hari.

Ketika cahaya matahari mulai masuk dari sela-sela tirai, Ryo terbangun lebih dulu. Kamar itu terasa sunyi. Hujan sudah berhenti, digantikan cahaya pagi yang pucat. Di sampingnya, Shoko masih tertidur, wajahnya tampak damai tetapi lelah.

Ryo memandangnya dalam diam.

Ada rasa hangat di dadanya, tetapi bersamaan dengan itu, rasa bersalah menghantamnya perlahan. Ia teringat cincin pertunangan Shoko. Ia teringat tunangan Shoko yang mungkin sedang mengirim pesan, menanyakan kabarnya. Ia teringat kantor, rapat, meja kerja, dan kehidupan normal yang harus mereka hadapi setelah keluar dari kamar ini.

Shoko kemudian membuka mata.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Tidak ada senyum. Tidak ada kalimat romantis. Hanya kesadaran bahwa sesuatu telah terjadi, dan mereka tidak bisa menghapusnya.

“Selamat pagi,” kata Ryo pelan.

Shoko mengangguk kecil. “Selamat pagi.”

Suara Shoko terdengar tenang, tetapi matanya menyimpan badai. Ia duduk perlahan, merapikan rambutnya, lalu menatap cincin di jarinya. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat suasana berubah berat.

“Aku…” Shoko berhenti. Ia menarik napas, lalu melanjutkan, “Aku tidak tahu harus berkata apa.”

Ryo menunduk. “Saya juga.”

Shoko tersenyum tipis, tetapi senyum itu pahit. “Lucu, ya. Semalam semuanya terasa seperti satu-satunya hal yang benar. Tapi pagi ini…”

“Pagi ini semuanya kembali nyata,” sambung Ryo.

Shoko menatapnya. Ada rasa terima kasih, penyesalan, dan kesedihan yang bercampur dalam pandangan itu.

“Aku tidak akan menyalahkanmu,” katanya. “Ini keputusanku juga.”

“Saya tahu. Tapi tetap saja…”

“Kau menyesal?”

Pertanyaan itu membuat Ryo terdiam lama.

Ia ingin menjawab iya, karena itu jawaban yang paling benar secara moral. Ia ingin mengatakan bahwa mereka seharusnya tidak melakukannya. Bahwa semua ini hanya kesalahan karena lelah, hujan, dan malam yang terlalu panjang.

Tetapi hatinya tidak sesederhana itu.

“Saya menyesal karena ini menyakiti banyak hal,” jawab Ryo akhirnya. “Tapi saya tidak bisa berbohong dan mengatakan bahwa semalam tidak berarti apa-apa.”

Shoko memejamkan mata.

Jawaban itu sepertinya lebih menyakitkan daripada penyesalan biasa.

Karena mereka berdua tahu, masalah terbesar bukanlah jika malam itu hanya kesalahan. Masalah terbesar adalah jika malam itu justru terasa terlalu jujur.

Setelah bersiap, mereka meninggalkan hotel bersama, tetapi berjalan dengan jarak yang lebih jauh dibanding malam sebelumnya. Di stasiun, orang-orang mulai memenuhi peron. Para pekerja bergegas menuju kantor, anak-anak sekolah tertawa bersama teman-temannya, dan dunia bergerak normal seolah tidak terjadi apa-apa.

Shoko berdiri di samping Ryo, namun tidak menatapnya.

“Di kantor,” katanya pelan, “kita harus bersikap seperti biasa.”

Ryo mengangguk. “Saya mengerti.”

“Tidak ada yang boleh tahu.”

“Ya.”

Kereta tiba dengan suara panjang yang memecah pagi. Pintu terbuka, orang-orang masuk, dan mereka berdua ikut terbawa arus. Di dalam kereta, mereka berdiri berdekatan, tetapi tidak saling menyentuh. Jarak beberapa sentimeter kini terasa lebih jauh daripada jarak semalam.

Ryo memperhatikan pantulan Shoko di kaca jendela. Wajahnya kembali tenang. Masker profesional yang selalu ia kenakan di kantor sudah kembali terpasang. Namun Ryo tahu, di balik ketenangan itu ada sesuatu yang berubah.

Begitu pula dirinya.

Hari-hari setelah malam itu menjadi jauh lebih sulit.

Di kantor, Shoko tetap menjadi atasan yang sama. Ia memberi instruksi dengan tegas, menghadiri rapat, dan berbicara kepada Ryo hanya seperlunya. Tidak ada perlakuan khusus. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka pernah berbagi rahasia di sebuah kamar hotel dekat stasiun.

Namun justru sikap biasa itu yang membuat Ryo semakin tersiksa.

Setiap kali Shoko berdiri di dekat mejanya, aroma parfumnya mengingatkan Ryo pada malam itu. Setiap kali mata mereka bertemu terlalu lama, keduanya cepat-cepat memalingkan wajah. Setiap kali seseorang menyebut rencana pernikahan Shoko, dada Ryo terasa seperti diremas.

Suatu sore, ketika kantor mulai sepi, Ryo melihat Shoko berdiri sendirian di ruang fotokopi. Ia memegang beberapa dokumen, tetapi pikirannya jelas berada di tempat lain.

“Takamura-san,” panggil Ryo pelan.

Shoko menoleh. “Ada apa?”

Ryo menelan ludah. “Apa Anda baik-baik saja?”

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi bagi mereka, pertanyaan itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Shoko menatapnya lama. Lalu ia tersenyum kecil.

“Aku tidak tahu.”

Ryo tidak mendekat. Ia sudah belajar bahwa satu langkah saja bisa menjadi awal dari kesalahan yang lain.

“Aku juga,” katanya.

Shoko menunduk. “Ryo, malam itu… mungkin tidak seharusnya terjadi.”

“Saya tahu.”

“Tapi aku tidak bisa mengatakan bahwa aku membencinya.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti rahasia kedua.

Ryo mengepalkan tangan, mencoba menahan segala sesuatu yang ingin ia katakan. Ia ingin meminta Shoko memilihnya. Ia ingin bertanya apakah pernikahan itu benar-benar yang ia inginkan. Ia ingin mengatakan bahwa perasaannya tidak berhenti di kamar hotel itu.

Tetapi ia tahu, cinta yang lahir dari pengkhianatan selalu membawa luka.

Dan mungkin, mereka sudah terlambat untuk keluar tanpa melukai siapa pun.

Beberapa minggu kemudian, undangan pernikahan Shoko mulai tersebar di kantor. Rekan-rekan kerja memberi selamat, memuji foto prewedding, dan bercanda tentang masa depan Shoko sebagai istri. Shoko menerima semuanya dengan senyum sempurna.

Ryo juga menerima undangan itu.

Ia memandang kartu elegan berwarna putih gading di tangannya. Nama Shoko tertulis berdampingan dengan nama pria lain. Huruf-huruf itu terlihat indah, tetapi bagi Ryo, setiap goresannya terasa seperti pengingat bahwa ia hanyalah bagian dari malam yang seharusnya dilupakan.

Di hari pernikahan, Ryo datang.

Ia berdiri di antara tamu undangan lain, mengenakan setelan hitam, menyaksikan Shoko berjalan perlahan menuju altar. Ia terlihat sangat cantik. Terlalu cantik sampai membuat dada Ryo sesak. Senyumnya lembut, gaunnya anggun, dan semua orang melihatnya sebagai calon pengantin yang bahagia.

Namun saat Shoko melewati barisan tempat Ryo berdiri, mata mereka bertemu sebentar.

Hanya sebentar.

Tetapi cukup untuk mengingatkan keduanya pada hujan, stasiun, kamar hotel, dan pagi yang penuh penyesalan.

Shoko segera mengalihkan pandangan dan terus berjalan.

Ryo tersenyum pahit.

Mungkin begitulah akhir dari kisah mereka. Bukan dengan pertengkaran, bukan dengan pengakuan, bukan dengan pelarian dramatis seperti dalam film. Melainkan dengan diam. Dengan pilihan untuk kembali ke kehidupan masing-masing, membawa rahasia yang tidak pernah bisa benar-benar hilang.

Namun bagi Ryo, malam itu tetap menjadi sesuatu yang membekas.

Bukan hanya karena ia pernah melewati batas bersama wanita yang sudah bertunangan. Tetapi karena malam itu, untuk pertama kalinya, ia melihat Shoko bukan sebagai atasan sempurna, bukan sebagai calon istri seseorang, melainkan sebagai manusia yang rapuh, kesepian, dan ingin dicintai dengan cara yang jujur.

Dan mungkin, bagi Shoko, Ryo juga akan selalu menjadi bagian dari dirinya yang paling tersembunyi.

Bagian yang pernah berani memilih keinginan sendiri, meski hanya untuk satu malam.

Satu malam yang salah.

Satu malam yang indah.

Satu malam yang tidak akan pernah mereka akui di depan siapa pun.

Tetapi tidak akan pernah benar-benar mereka lupakan.

Diposting pada:
Dilihat:15
Genre: adult, Drama
Tahun:
Negara:

Download [MIDE-709] Perselingkuhan Dengan Ibu Boss – Shoko Takahashi